Rabu, 20 Juli 2016

Korean Cuisine Lidah Jawa

Korean Cuisine

"Rek ayo rek...mlaku-mlaku nang Tunjungan
Rek ayo rek, mlaku-mlaku bebarengan
.... koyo anake sing dodol rujak Cingur"

Generasi 70an sampai 80an pasti mengenal cuplikan lirik lagu di atas. Yap, benar, lagu ini mempopulerkan Surabaya sekaligus Tunjungan Plaza sebagai salah satu destinasi wisata belanja di Surabaya. Catatan kedua Ema kali ini adalah review kuliner di Surabaya. Kali ini dimulai dari makanan Asia, tepatnya kuliner Korea. "Iih... gak nasionalis banget deh." Mungkin selintas itu yang bunda pikirkan. Apalagi dengan cuplikan lirik di atas, harusnya yang diulas rujak cingur atau semanggi, sebagai makanan khas Surabaya. Sayangnya sejak tergoda untuk sekedar shopping window atau mlaku-mlaku di Tunjungan, saya belum menemukan rujak cingur seperti yang digambarkan lirik lagu di atas. Entah generasi lama, apakah menemukan rujak cingur di Tunjungan?

Tunjungan Plaza sebagai salah satu mall terbesar di Jawa Timur memiliki lantai food courd yang berisi sebagian besar franchise makanan asing. Adalah Kimchi-Go, satu restauran waralaba makanan khas Korea yang berada di Tunjungan Plaza IV. Sebagaimana yang diulas oleh www.laperbro.com, menu makanan di restauran ini berlabel Halal, meski saya pribadi belum melihat sertifikat halal sebagaimana yang ditempel di pintu masuk restauran waralaba asing. Suasana restauran ini di kesankan mirip dengan warung khas Korea, dengan meja berhadapan empat sampai enam orang, dengan jarak meja satu dan yang lainnya terbatas. Yang terbersit dalam benak saya adalah penataan meja seperti ini di ruang yang terbatas mengartikan bahwa pengunjungnya harus makan cepat dan bersih, sebagaimana budaya makan orang Korea dan Jepang yang tidak banyak bicara dan bersih.

Menu makanan yang ada di restauran ini beragam, mulai dari Bi Bim Bab, Kalbi, Ramyeon sampai Kimchi dan Kimmari. Harga bervariasi antara 30 ribu sampai 50 ribu per porsi. Disajikan fresh panas dengan sumpit dan saus pelengkap. Menurut Lia, sulung saya, yang diulas di instagramnya @hijablia, menu makanannya sangat banyak dan tidak terlalu mahal untuk ukuran restauran di mall. Untuk kantong pelajar bisa disesuaikan dengan memesan satu porsi dengan dua sumpit. Maklumlah bunda, anak sekolah pekara makan, asal bisa beli tak malu dimakan berdua, hahaha. Bagaimana dengan rasanya, Lia mengatakan rasanya enak dan aneh, perpaduan antara lidah Jawa dan asam pedas Kimchi Korea. Menurutnya lagi, dibanding di negara asalnya, menu daging sapi di restauran ini jauh lebih murah. Tentu saja, pastinya yang mereka pakai daging lokal dengan bumbu Korea :)

Kenyang menyantab Ramyeon, Lia berbendapat bahwa mie yang ada di sana tidak jauh beda dengan Mie Ayam langganan di dekat rumah, (yang mungkin akan saya ulas di catatan selanjutnya). Sambil tersenyum saya bertanya, apakah puas dengan makanan Korea? Dengan wajah sok imutnya berkata "Kurang Maaa.." iiih, menjengkelkan. Beruntung Lia makan dengan temanya, membayangkan semangkuk mie seharga 50 ribu bisa membuat kering kantung belanja saya.

Masih dengan kuliner Korea lidah Jawa, esoknya saya membuat mie dengan saus hitam dari paduan saus Teriyaki dan dan bawang putih saja, sebab kebetulan daun bawang, bawang merah dan cabe sedang habis. Saya sajikan panas ketika anak-anak asyik nonton televisi. Komentar Lia diluar dugaan, mirip rasa Ramyeon katanya, jenis JajjangMeon atau mie kacang hitam. Sedang si kecil masih suka selera lama, lidah jawa. Saya pun tertawa. Bagi generasi muda, yang kekinian, tentu saja, mengenal makanan Korea itu wajib bagi mereka, dengan sedikit kesempatan mengenalkan langsung makanan Korea, lidah tak pernah berbohong, bahwa kuliner Indonesia, dengan berbagai bumbu dan rempahnya, jauh lebih lezat dibanding dengan masakan apapun di luar sana. Bolehlah merasakan masakan asing, tapi lidah tak akan berkhianat, tetap nasionalis. Heheheh. Selamat memasak bunda.


Posted via Blogaway


2 komentar: